
DEMOKRASI.CO.ID - Ombudsman Kendari, Sulawesi Tenggara, ikut mengawasi proses investigasi insiden kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Keterlibatan Ombudsman bertujuan agar proses dan hasil penyelidikan dilakukan secara transparan.
Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sultra Mastri Susilo menyampaikan, tim investigasi gabungan Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tenggara telah memintai keterangan dari 13 oknum polisi. Dia mengatakan, tim investigasi menyatakan bersedia menyampaikan hasil penyelidikan kepada Ombudsman.
"ORI berkomitmen mengawal setiap perkembangan penanganan kasus kematian dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) supaya dilakukan secara transparan," kata Mastri di Kendari, Senin (30/9).
Dalam melakukan tugas pengawasan, Mastri memastikan Ombudsman akan bekerja profesional dengan mengawasi seluruh tahapan yang dilakukan tim investigasi Mabes Polri untuk disampaikan ke publik secara periodik. "Bila adik-adik mahasiswa yang ikut dalam aksi unjuk rasa memiliki bukti, baik itu melalui foto maupun video, hendaknya memberikan ke Ombudsman sebagai barang bukti lainnya," ujarnya.
Unjuk rasa ribuan orang dari sejumlah perguruan tinggi serta pelajar di Kota Kendari, Kamis (26/9), menyebabkan dua orang meninggal dunia. Pengunjuk rasa Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo, dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan pada Kamis (26/9) sekitar pukul 15.30 WITA. Korban lainnya bernama Muh Yusuf Kardawi (19), yang meninggal dunia setelah menjalani operasi akibat luka serius di bagian kepala di RSUD Bahteramas, Jumat (27/9), sekitar 04.00 WITA.
Tim investigasi dikabarkan sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sebagai tahap penyelidikan. Dalam olah TKP itu, tim investigasi menemukan tiga selongsong peluru yang kemudian diamankan sebagai bahan uji balistik Mabes Polri ataupun laboratorium forensik. Sebanyak 13 oknum anggota polisi juga sudah diperiksa, termasuk sejumlah senjata api pistol yang diduga digunakan saat unjuk rasa mahasiswa terjadi.
Mastri memastikan kepada adik-adik mahasiswa UHO bahwa kerja pengawasan yang dilakukan Ombudsman Kendari tidak perlu diragukan. Mastri bersama beberapa tim akan mengawal dan mengawasi jalannya penyelidikan yang dilakukan tim investigasi Mabes Polri.
Ia juga menyampaikan kepada adik-adik mahasiswa yang ikut dalam unjuk rasa, bilamana menemukan bukti terkait kasus keterlibatan mahasiswa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Perikanan UHO saat menyampaikan orasi damai di kantor Ombudsman Perwakilan Sultra, di Kendari, Senin.
![]() |
Keluarga memanjatkan doa untuk almarhum Immawan Randi (21) di RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019). |
Kemarin, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UHO melakukan aksi unjuk rasa ke sejumlah tempat, salah satunya di kantor Ombudsman Kendari. Mereka menuntut pelaku penembakan dua rekan mereka segera diungkap.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik UHO, Ikbal, dalam orasi di hadapan anggota Ombudsman Kendari mengharapkan agar kasus kematian dua rekan mahasiswa yang tertembak tersebut benar-benar diawasi dengan baik, mulai dari awal hingga mengungkap siapa di balik penembakan dua mahasiswa itu.
"Mewakili mahasiswa UHO dan khususnya, fakultas teknik dan perikanan mengharapkan Ombudsman Kendari benar-benar bekerja profesional dan independen, tidak mendapat tekanan dari pihak tertentu yang sengaja menggagalkan proses pengungkapan kasus atas kematian dua rekan kami," teriak para mahasiswa.
Seusai orasi di halaman kantor Ombudsman, para mahasiswa bergerak ke kantor Kanwil Kemenhum HAM Sultra. Sebelum melanjutkan aksinya, mereka melakukan doa bersama untuk mengenang mendiang dua rekan mereka yang menjadi korban meninggal saat dalam menyampaikan aspirasi di gedung DPRD Sultra terkait penolakan revisi undang-undang yang mengundang kontroversi di kalangan masyarakat.
Gejayan Memanggil
Desakan mengungkap kasus kematian dua mahasiswa Kendari juga menjadi salah satu tuntutan yang disampaikan dalam aksi demonstrasi di berbagai daerah. Aksi "Gejayan Memanggil Jilid Dua" yang digelar di Pertigaan Colombo, Jalan Gejayan, Sleman, Senin (30/9), memberi sorotan lebih terhadap tindakan represif polisi dalam menangani aksi-aksi.
Kali ini, memang ada yang berbeda dari aksi unjuk rasa "Gejayan Memanggil". Utamanya, terlihat dari tuntutan-tuntutan yang memberi sorotan pula terhadap tindakan-tindakan represif polisi.
Di Surabaya, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Jawa Timur menggelar aksi di depan Mapolda Jatim, Senin (30/1). Massa aksi yang jumlahnya sekitar seratusan tersebut mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuntaskan kasus penembakan terhadap dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO).
"Segera usut penembakan terhadap Randi dan Yusuf. Apabila tak diusut kematian mereka, kami menuntut Tito mundur dari kapolri," kata Ketua DPD IMM Jawa Timur Andreas Susanto.
Andreas mengakui, IMM memang dilibatkan dalam proses investigasi kasus penembakan dua mahasiswa tersebut. Namun sampai saat ini, menurut Andreas, pihaknya belum mendapatkan informasi terkait perkembangan penelusuran kasus penembakan.
"IMM dilibatkan dalam pengusutan kasus penembakan, saat ini masih proses investigasi ada gabungan dari IMM dan AMM, juga keluarga. Sampai hari ini belum ada informasi," ujarnya.
Massa aksi mendesak Polri segera memberi sanksi kepada aparat yang melakukan penembakan. Mereka juga menuntut Presiden Joko Widodo untuk aktif memberikan respons terhadap setiap tindakan represif dari aparat kepolisian. Penolakan terhadap RUU bermasalah turut disuarakan dalam aksi tersebut.
Dalam aksi yang berlangsung sekitar sejam itu, perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiah saling bergantian untuk berorasi. Setelah melakukan orasi, mereka mengakhiri aksi dengan menggelar Shalat Ghaib. Shalat Ghaib tersebut dimaksudkan untuk mengirimkan doa terhadap dua mahasiswa yang meninggal di Kendari.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan mengaku sangat memahami apa yang menjadi tuntutan dalam aksi tersebut. Namun, Luki menyatakan, pihaknya hanya akan menunggu perkembangan dari hasil penyelidikan kasus tersebut. "Sudah ada tim yang menangani, kami tinggal menunggu," kata dia. n antara/wahyu suryana/dadang kurnia ed: satria kartika yudha [rol]